Tuesday, February 28, 2012

Tips dan Strategi agar Permohonan KPR Bisa Diterima

Anda harus memiliki strategi khusus sebelum mengajukan Permohonan KPR kepada bank. Tujuannya agar Permohonan KPR Anda bisa diluluskan oleh pihak bank. Karena itu, ada tiga hal yang harus diperhatikan sebelum Anda mengajukan Permohonan KPR kepada bank:
Siapkan dokumen keuangan yang diperlukan:
Siapkan dokumen keuangan yang pasti (atau hampir pasti) akan diminta oleh pihak bank. Apa itu? Bila Anda adalah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:
a. Surat Keterangan Bekerja di Perusahaan (minimal Anda harus sudah bekerja di perusahaan tersebut selama 2 tahun)
b. Slip Gaji Asli
c. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)
Bila Anda adalah seorang wiraswastawan, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:
a. Daftar Pelanggan Anda (bila memungkinkan)
b. Daftar Pemasok Anda (bila usaha Anda bersifat usaha dagang)
c. Bukti Transaksi Keuangan Anda dengan Pelanggan (seperti bon atau faktur)
d. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)
e. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
f. SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) ­ bila usaha Anda bersifat usaha dagang)
g. TDP (Tanda Daftar Perusahaan)
Bila Anda adalah seorang profesional, maka dokumen yang akan diminta oleh bank adalah:
a. Daftar Pelanggan atau klien Anda (bila memungkinkan)
b. Bukti Transaksi Keuangan Anda dengan Pelanggan (seperti bon atau faktur)
c. Catatan Rekening Bank (minimal selama 3 bulan terakhir)
d. NPWP
e. Surat Izin Praktek (untuk beberapa profesi tertentu)
Siapkan kelengkapan dokumen dari jaminan yang akan diajukan
Bila Anda membeli rumah secara kredit, maka rumah yang akan dibeli tersebut biasanya akan diminta oleh bank untuk dijaminkan kepada mereka. Ini berarti, apabila Anda tidak bisa meneruskan pembayaran cicilan KPR Anda (macet dan tidak ada penyelesaiannya), maka rumah itu akan disita oleh bank untuk mengganti sisa hutang yang belum Anda bayar.
Itulah sebabnya, adalah penting bagi bank untuk memeriksa lebih dulu kelengkapan dokumen dari rumah yang akan dijaminkan tersebut. Apa saja dokumen itu?
a. Sertifikat Tanah
b. Sertifikat IMB + Blue Print (cetak biru gambar rumah tersebut)
c. SPPT PBB Tahun terakhir
Dengan demikian, selama Anda membayar Cicilan KPR Anda, maka dokumen-dokumen tersebut akan disimpan oleh bank sampai cicilan KPR Anda lunas. Jadi, pastikan Anda mengecek terlebih dahulu kelengkapan dari dokumen-dokumen tersebut sebelum Anda mengajukan Permohonan KPR Anda kepada bank.
Perbaiki Penampilan Keuangan Anda
Anda juga perlu memperbaiki penampilan keuangan Anda agar bank bisa menangkap “kesan” yang baik terhadap keuangan Anda. Dengan memperbaiki penampilan keuangan Anda, maka akan makin besar kemungkinannya bahwa bank akan menerima permohonan KPR Anda. Karena itu, di bawah ini adalah sejumlah hal yang harus diperhatikan dalam memperbaiki penampilan keuangan Anda:
a. Perbaiki Catatan Rekening Bank yang Anda miliki.
Bila Anda bekerja sebagai karyawan, bank akan meminta slip gaji sebagai bukti bahwa Anda memang memiliki penghasilan sebesar jumlah tertentu setiap bulannya. Namun demikian, jangan lupa bahwa bank mungkin tidak akan percaya begitu saja kepada slip gaji tersebut. Bank biasanya masih akan meminta catatan rekening bank Anda (biasanya berupa laporan rekening koran atau buku tabungan) untuk membuktikan apakah memang benar ada uang masuk sejumlah nilai yang persis sama seperti apa yang tercantum dalam slip gaji Anda.
Sekarang, bila Anda biasa mendapatkan penghasilan secara tunai (bukan transfer), (entah apakah Anda bekerja sebagai karyawan, profesional, atau wiraswastawan) maka usahakan untuk menyetorkan penghasilan tersebut lebih dulu ke rekening Anda, sebelum Anda menggunakannya untuk membayar pengeluaran Anda sehari-hari. Dengan demikian, bank dapat membuktikan bahwa Anda memang memiliki penghasilan secara rutin sebesar minimal sekian rupiah setiap bulannya.
Dan, kalau bisa, usahakan agar catatan rekening bank tersebut menunjukkan adanya pemasukan sekitar minimal tiga sampai enam bulan terakhir penghasilan Anda.
b. Lancarkan pembayaran hutang Anda di tempat lain.
Kalau Anda punya hutang di tempat lain (seperti Hutang Kartu Kredit atau hutang kepada bank lain), usahakan agar pembayaran tagihannya tidak sampai macet. Sebagai informasi saja untuk Anda, bank bisa menganalisa dan mempunyai cara tersendiri dalam memperkirakan kondisi keuangan Anda yang sebenarnya, salah satunya adalah apakah Anda pernah macet atau tidak dalam membayar hutang di tempat lain. Jika diperkirakan bahwa Anda pernah macet dalam membayar hutang Anda di tempat lain, bisa-bisa permohonan kredit Anda akan ditolak karena bank takut hal yang sama bisa terulang kepada mereka. Jadi sekali lagi, lancarkan pembayaran hutang Anda di tempat lain.
Nah, sekarang bagaimana bila Anda ternyata pernah macet dalam membayar tagihan hutang di tempat lain? Kalau itu baru-baru saja terjadi, maka Anda sebaiknya menunda permohonan KPR Anda dan melancarkan dulu pembayaran hutang di tempat lain itu sampai dengan – paling tidak ­ duabelas bulan ke depan. Setelah duabelas bulan, baru ajukan lagi permohonan KPR Anda kepada bank, karena ­ walaupun Anda pernah punya tagihan macet di tempat lain, tapi ­ diharapkan kondisi keuangan Anda sudah baik kembali dalam duabelas bulan itu. Sekali lagi, bank bisa menganalisa dan mempunyai cara tersendiri untuk memperkirakan kondisi keuangan Anda yang sebenarnya, salah satunya adalah apakah baru-baru ini Anda pernah macet dalam membayar hutang di tempat lain.
c. Atur proporsi cicilan hutang Anda.
Perhatikan bahwa bank ­ mungkin – akan menolak Permohonan KPR Anda bila total cicilan hutang Anda (termasuk cicilan KPR Anda apabila diluluskan) adalah sebesar sepertiga (atau sekitar 33%) dari penghasilan Anda.
Sebagai contoh, bila penghasilan rutin Anda Rp 2 juta per bulan, lalu tiap bulan, Anda mencicil ini dan itu di tempat lain sebesar ­ sekitar ­ Rp 600 ribu setiap bulan. Ini berarti, total cicilan hutang Anda setiap bulan sudah memakan sekitar 30% dari penghasilan rutin Anda yang Rp 2 juta per bulan. Nah, andaikata permohonan KPR Anda diterima oleh bank dan Anda harus membayar tambahan cicilan KPR sebesar misalnya Rp 400 ribu sebulan, maka ini berarti total cicilan hutang Anda adalah Rp 1 juta (atau memakan porsi sekitar 50% dari Penghasilan Rutin Anda). Di sinilah bank mungkin akan menolak Permohonan KPR Anda.
Ini karena bank berpendapat bahwa bila total cicilan hutang Anda memakan porsi yang lebih besar daripada sepertiga penghasilan rutin Anda, maka bank “takut” bahwa Anda jadi kesulitan membayar pengeluaran rumah tangga Anda yang lain, sehingga ­ mungkin ­ akan tergoda untuk mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk membayar cicilan KPR. Buntutnya, ditakutkan cicilan KPR tidak bisa terbayar setiap bulannya karena uangnya dipakai untuk membayar pengeluaran rumah tangga.
Jadi bila pada saat ini Anda sudah punya Cicilan Hutang yang totalnya sudah mencapai 33% dari penghasilan rutin Anda, jangan harap permohonan KPR Anda bisa diterima. Kurangi dulu porsi cicilan hutang yang 33% tersebut, baru Anda bisa mengharapkan agar Permohonan KPR Anda bisa diterima. Sekali lagi, bagi bank, Cicilan semua hutang Anda, plus cicilan KPR Anda (apabila diluluskan), harus memakan porsi maksimal sebesar 1/3 atau 33% dari Penghasilan Rutin Anda.
RumahJogja99.com

Persiapan membeli Rumah

Pembaca, bila kita bertanya kepada setiap orang yang belum memiliki rumah, hampir semuanya spontan mengatakan bahwa akan lebih baik bila mereka bisa memiliki rumah sendiri dibanding sekadar menyewa. Alasannya bisa bermacam-macam. Saya di sini tidak ingin bicara tentang apa untung ruginya memiliki rumah sendiri dengan hanya menyewa saja. Karena sekali lagi, ada banyak sebab yang melatarbelakangi timbulnya keinginan untuk memiliki rumah sendiri.
Oke, keinginan, sih, keinginan. Tapi saya rasa tidak semua dari Anda punya cukup uang, kan, untuk bisa memenuhi keinginan tersebut? Ini karena kondisi keuangan masing-masing dari Anda berbeda-beda. Tidak jadi masalah bagi Anda yang pada saat ini sudah memiliki dana yang cukup untuk bisa membeli rumah. Tapi bagaimana bagi Anda yang belum memiliki dana yang cukup pada saat ini?
Kapan Saat yang Tepat untuk Membeli Rumah?
Bagi Anda yang pada saat ini belum memiliki rumah, kapan sih saat yang tepat bagi Anda untuk membelinya? Sebetulnya tidak ada jawaban yang pasti. Sejumlah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Anda mungkin adalah pertanda bahwa sudah saatnya bagi Anda untuk membeli sebuah rumah. Misalnya saja, rencana menikah atau bertambahnya anggota keluarga mungkin merupakan suatu pertanda bahwa Anda mungkin sudah harus memiliki rumah sendiri.
Perhatikan bahwa membeli rumah, baik bagi yang baru pertama kali maupun bagi yang sudah beberapa kalinya, selalu merupakan suatu keputusan penting yang perlu pemikiran matang. Iya dong, karena dengan membeli rumah, maka Anda mungkin harus memiliki suatu komitmen jangka panjang. Kalau nanti rumah Anda rusak-rusak pada tahun kelima, ketujuh atau kesembilan, Anda kan tetap harus keluar uang untuk memperbaikinya kan? Itulah yang dimaksud dengan komitmen jangka panjang, yaitu bahwa apa pun yang terjadi dengan rumah itu, selama rumah itu adalah milik Anda, maka Anda harus merawatnya.
Bagi Anda yang membeli rumah secara kredit, maka Anda mungkin harus membayar cicilan rumah dengan jangka waktu yang bervariasi, mulai dari satu, tiga, lima, hingga 15 tahun lamanya. Belum lagi Anda juga harus membayar biaya-biaya lain yang mungkin muncul di tengah jalan, seperti perawatan rumah, renovasi, perluasan, dan lain-lain sehingga dalam perjalanannya nanti rumah Anda mungkin akan terus menyesuaikan diri dengan gaya hidup Anda sekeluarga.
Bagi Sebagian Orang, Punya Rumah adalah Impian
Jika ditinjau dari fungsinya, rumah semata-mata adalah tempat bernaung. Jangan lupa bahwa memiliki tempat untuk bernaung merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi seperti layaknya makanan dan pakaian. Kalau Anda butuh makan dan butuh pakaian, maka Anda juga perlu tempat untuk bernaung.
Bagi kebanyakan orang, memiliki rumah adalah suatu impian yang sudah ada dalam benak mereka sejak jauh-jauh hari, di mana seringkali impian itu terbentuk dari pengalaman hidup mereka. Mungkin saja seseorang yang di masa kecilnya tidak mempunyai halaman untuk bermain ingin sekali memiliki rumah dengan halaman yang luas. Di lain pihak, bagi orang yang kebetulan dilahirkan sebagai anak tunggal mungkin saja menginginkan rumah mungil yang asri dan nyaman.
Karena itu, tidak ada rumusan yang tepat ketika berbicara tentang seperti apa rumah idaman itu, karena rumah dengan model seperti ini mungkin cocok untuk orang dengan tipe ini tetapi belum tentu cocok untuk orang dengan tipe itu.
Namun demikian, terkadang kita dihadapkan pada kenyataan bahwa secara ekonomi kita belum mampu memiliki rumah, tidak peduli bahwa kebutuhan untuk punya rumah sendiri mungkin sudah sangat mendesak sekalipun. Belum lagi ditambah dengan adanya keinginan kuat untuk mewujudkan rumah idaman dengan model ini atau itu.
Yang pasti, ketika Anda sudah memutuskan untuk membeli rumah, maka selalu ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, seperti kondisi ekonomi, kecenderungan turun naiknya harga rumah, bunga kredit bank dan ­ yang paling penting ­ kondisi keuangan Anda. Sudah cukup amankah penghasilan Anda? Berapa jumlah tabungan Anda saat ini? Berapa jumlah pengeluaran rutin Anda? Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.
Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tentang langkah-langkah persiapan apa yang harus Anda lakukan bila Anda memutuskan untuk membeli rumah:
Putuskan rumah seperti apa yang Anda inginkan dan cobalah mencarinya
Ada baiknya bila Anda terlebih dahulu mengambil kertas dan menuliskan apa yang sebetulnya menjadi kebutuhan Anda yang bisa dipenuhi dalam rumah itu, seperti berapa jumlah kamar yang Anda inginkan? Berapa jumlah kamar mandinya? Sebesar apa halamannya? Haruskah rumah itu memiliki garasi? Seperti apa kondisi atap yang Anda inginkan?
Setelah itu, coba tuliskan juga fasilitas-fasilitas umum macam apa yang Anda inginkan disekitar rumah Anda, apakah rumah Anda harus berada di pinggir jalan raya? Apakah Anda ingin agar rumah Anda dekat dengan rumah ibadah? Atau apakah Anda ingin agar ada sekolah di dekat rumah Anda?
Setelah menuliskannya, tiba waktunya bagi Anda untuk mulai mencari rumah yang memenuhi ­ atau paling tidak mendekati ­ keinginan Anda. Mungkin ada baiknya bila Anda datang ke berbagai pameran rumah karena disana Anda bisa mendapatkan banyak sekali informasi rumah dari para sales yang siap membantu Anda. Ditambah lagi, di pameran biasanya juga ditawarkan potongan harga yang cukup besar.
Tentu saja, sebaiknya Anda tidak langsung percaya pada gambaran kondisi rumah yang tertera pada brosur penjualan atau maket di pameran tersebut, karena dalam prakteknya seringkali kenyataannya berbeda dengan apa yang ada di lapangan. Apa yang harus Anda lakukan adalah dengan datang ke lokasi dan melihatnya sendiri. Malah kalau perlu, buat sejumlah foto dari rumah-rumah tersebut pada saat kunjungan agar bisa Anda pelajari sendiri foto-foto tersebut di rumah.
Lihatlah beberapa rumah sekaligus, karena makin banyak kemungkinan yang Anda lihat akan makin baik. Bandingkan satu dengan yang lain, sehingga dari situ Anda akan memiliki gambaran tentang rumah mana yang terbaik untuk Anda.
Lihat berapa harga rumah dan berapa jumlah yang harus Anda bayar untuk bisa membelinya
Kita anggap saja Anda sudah tahu tentang rumah mana yang Anda inginkan. Setelah itu, tanyakan berapa harganya. Jangan kaget kalau harganya mahal, karena rumah sebetulnya adalah salah satu pembelian terbesar yang mungkin pernah Anda lakukan dalam hidup Anda.
Oh ya, kadang-kadang mungkin ada biaya-biaya lain juga lho yang harus Anda bayar. Contohnya seperti Biaya Pemesanan (booking fee), Akte Jual Beli, Biaya Balik Nama Serfikat, Biaya Jasa Notaris dan lain sebagainya. Jadi sebetulnya, tidak hanya harga rumah itu saja yang harus Anda bayar, tetapi ada biaya-biaya lain juga yang harus Anda antisipasi sehingga dari sini Anda bisa menghitung berapa jumlah keseluruhan yang harus Anda bayar untuk bisa mendapatkan rumah yang Anda inginkan.
Hitung berapa jumlah dana yang Anda miliki saat ini
Setelah tadi Anda melihat rumah yang Anda inginkan dan menanyakan harganya, sekarang cobalah menghitung berapa jumlah dana yang Anda miliki pada saat ini. Dana tersebut bisa berasal dari tabungan, deposito atau dari koleksi investasi Anda yang lain. Kemudian, barulah kita masuk ke langkah berikut
Putuskan apakah Anda akan membeli secara tunai atau kredit
Anda sudah menghitung berapa jumlah dana yang Anda miliki pada saat ini. Dari situ, sekarang pertanyaannya adalah: apakah dana Anda cukup untuk bisa membeli rumah tersebut secara tunai? Kalau ya, bagus. Anda mungkin bisa langsung membeli rumah tersebut dan persoalannya selesai. Bagaimana bila Anda tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli rumah tersebut secara tunai? Jelas Anda harus ambil kredit.
Kalau Anda datang ke bank, maka bank biasanya memiliki produk kredit yang bisa dimanfaatkan untuk membeli rumah. Nama produk ini adalah KPR atau Kredit Pemilikan Rumah. Untuk bisa mengambil KPR, maka bank biasanya tidak akan mau membayari rumah Anda 100%. Mereka hanya akan membayari rumah Anda sekitar 70% dari harga rumah, sisanya yang 30% harus Anda bayar sendiri dari kantong Anda. Bagaimana caranya? Kalau harga rumah yang Anda inginkan adalah Rp 100 juta, maka Anda harus membayar dulu 30%-nya dari kantong Anda (dalam contoh ini berarti Rp 30 juta). Setelah itu, barulah bank akan melunasi sisanya yang 70% (yaitu Rp 70 juta). Di sini, jumlah 30% yang Anda bayar dianggap oleh bank sebagai Uang Muka (Down Payment = DP)
Siapkan dananya
Sekarang, bagaimana kalau dana yang Anda miliki tidak cukup untuk bisa membayar Uang Muka yang 30% itu? Boro-boro bisa bayar yang 30 %, wong untuk bayar 10 %-nya saja enggak cukup Gimana dong kalau begitu?
Bila demikian, maka Anda mungkin harus menabung secara rutin untuk bisa mengumpulkan uang muka tersebut. Sebagai contoh, kalau harga rumah yang Anda inginkan adalah Rp 100 juta, 30 %-nya berarti Rp 30 juta. Nah, kalau dana Anda saat ini cuma Rp 5 juta, ini berarti Anda harus menabung untuk bisa mengumpulkan sisanya yang Rp 25 juta.
Di lain pihak, bisa saja Anda menabung bukan untuk membayar Uang Muka, tetapi untuk membayar rumah tersebut secara tunai 100 %. Walaupun mungkin hal ini bisa memakan waktu lama, tetapi dengan demikian Anda tidak perlu ambil kredit lagi kan? Dalam contoh di atas, ini berarti Anda harus menabung sampai bisa mengumpulkan Rp 100 juta dalam rekening Anda agar bisa membeli rumah tersebut secara tunai.
Tapi awas, jangan lupa untuk memasukkan unsur inflasi dalam perhitungan Anda. Artinya, harga rumah pada saat ini adalah Rp 100 juta. Anda lalu memutuskan untuk menabung selama satu tahun agar dana Rp 100 juta tadi bisa terkumpul. Tapi, mungkin saja setelah satu tahun harga rumah tersebut sudah naik sekitar sepuluh, duapuluh, atau tiga puluh persen. Jadi, jumlah yang harus Anda tabung bukan lagi Rp 100 juta, tetapi sebaiknya ­ mungkin – sekitar Rp 130 juta.
Pada nomor mendatang, kita akan membahas tentang strategi apa yang harus Anda tempuh bila Anda ingin membeli rumah melalui jalur kredit. Kasarnya, bagaimana strateginya agar Permohonan KPR Anda bisa diterima oleh bank.
TAWAR, TAWAR, TAWAR
Bila Anda membeli rumah dari pengembang (developer), maka rumah tersebut biasanya masih baru, berada di kompleks perumahan dan belum pernah ditempati sama sekali. Untuk rumah seperti ini, biasanya harga yang ditawarkan pengembang adalah harga pas.
Namun demikian, Anda bisa juga tidak membeli rumah dari pengembang, tetapi dari orang yang sudah menempati rumah tersebut. Jadi, istilahnya adalah rumah bekas. Nah, untuk rumah seperti ini biasanya harga yang ditawarkan masih bisa dinegosiasikan. Karena itu, ada beberapa informasi yang sebaiknya Anda dapat sehingga Anda bisa lebih siap dalam melakukan tawar menawar harga dengan si penjual:
Cek apakah harga rumah yang ditawarkan penjual kurang lebih sama dengan harga rumah lain dengan kondisi yang sama dan di lokasi yang sama. Bila harga rumah di tempat lain tersebut lebih rendah, Anda mungkin bisa meminta si penjual menurunkan harganya.
Cek juga kondisi rumah tersebut, apakah rumah itu memiliki sejumlah kerusakan yang ­ tidak bisa tidak ­ harus diperbaiki oleh Anda sebagai pemilik barunya nanti. Semakin banyak kerusakannya, posisi tawar menawar Anda bisa lebih kuat karena Anda bisa meminta si penjual menurunkan harga rumahnya.
Cek juga sudah berapa lama rumah tersebut ditawarkan untuk dijual. Jika rumah itu sudah ditawarkan dalam waktu yang cukup lama, maka si penjual mungkin akan makin ingin menjual rumahnya dan mau menerima tawaran harga yang lebih rendah.
posting dari http://rumahjogja99.com/artikel/periapan-membeli-rumah

Membeli Rumah dulu atau Mobil dulu…?

Mana yang sebaiknya dibeli lebih dahulu antara mobil dan rumah tentu harus dijawab dengan mana yang menjadi prioritas Anda untuk memilikinya lebih dahulu. Keduanya memang penting, namun dengan kondisi keuangan Anda sekarang ini, nampaknya Anda hanya sanggup untuk membayari uang muka salah satunya saja.
Dari sudut pandang keuangan, mari kita lihat satu-persatu alternatifnya:
Membeli Mobil
Dengan uang tabungan sebesar Rp 16 juta sepertinya memang cukup jika digunakan untuk membayar uang muka pembelian mobil. Apalagi sering sekali ada penawaran kredit mobil dengan uang muka yang sangat rendah. Beda dengan rumah dimana pembelian kredit mengharuskan uang muka setidaknya 20% – 30% dari harga rumahnya. Namun saya ragu apakah permohonan kredit pembelian mobil Anda bisa disetujui atau tidak. Ini mengingat bank atau perusahaan pembiayaan menetapkan cicilan maksimum adalah sebesar 30% dari penghasilan Anda. Dengan penghasilan berdua sebesar Rp 5 juta per bulan, maka besarnya cicilan maksimum yang akan diperbolehkan adalah Rp 1,5 juta. Apakah ini cukup untuk membayar cicilan mobil selama 2 tahun? saya rasa tidak, kecuali jika Anda memilih mobil yang harganya hanya Rp 50 jutaan saja. Solusinya adalah Anda terpaksa harus memilih mobil yang harganya bisa lebih rendah atau mengambil masa kredit yang lebih panjang, 3 tahun misalnya. Atau Anda bisa memperbesar uang mukanya saja, tapi tentu saja Anda harus sedikit bersabar untuk menambah dahulu tabungan Anda sampai cukup jumlahnya.
Itu kalau dilihat dari pembeliannya, bagaimana dengan biaya operasional dan perawatannya? Hampir dapat dipastikan bahwa biaya perawatan mobil akan jauh lebih mahal daripada biaya perawatan rumah. Saya harap Anda sudah memperhitungkannya kedalam anggaran bulanan Anda. Memang Anda bisa menghemat transportasi untuk bis, tapi jangan lupa adanya pengeluaran baru seperti bahan bakar, parkir, perawatan dan asuransi.
Membeli Rumah
Dengan tabungan sebesar Rp 16 juta, Anda bisa membayar uang muka untuk mencicil rumah dengan ukuran yang sedang di lokasi seputar Jakarta. Cicilannya pun relatif murah, bisa dicicil dengan kurang dari Rp 1 juta rupiah selama maksimal 10 tahun. Ini tentu akan lebih ringan untuk kondisi keuangan Anda.
Namun biaya pembelian rumah juga tidak berhenti sampai disitu saja. Tidak cukup hanya dengan membeli rumah, Anda juga harus mengisinya dengan perabotan dan kelengkapan tempat tinggal lainnya. Pastikan pengeluaran untuk ini juga sudah disiapkan dalam anggaran Anda.
Kita sudah melihat kedua alternatifnya, lalu yang mana sebaiknya didahulukan. Membeli rumah dulu atau membeli mobilnya dulu? Saran saya sih, beli saja rumahnya dulu, mobilnya bisa menyusul belakangan. Karena tempat tinggal, bagaimanapun juga, wajib dimiliki oleh setiap keluarga. Dan walaupun Anda mengambil keputusan untuk tetap tinggal bersama mertua saja. Kan rumahnya bisa disewakan pada orang lain. Uang hasil sewanya bisa digunakan untuk membeli mobil di kemudian hari.

Beli Rumah Yang Tepat Untuk Investasi


Seringkali orang yang membeli rumah kedua dengan tujuan investasi tidak diikuti oleh pertimbangan bagaimana pembelian rumah tersebut akan mempengaruhi aspek lain dalam kehidupan finansialnya. Hal ini tentunya bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
Karena itu Anda harus menyadari bahwa memiliki rumah tambahan bisa sangat mempengaruhi kehidupan Anda, terutama dari segi keuangan. Walaupun memiliki satu, dua atau tiga buah rumah sekaligus sebagai investasi adalah tujuan yang baik, tetapi itu bukanlah satu-satunya cara untuk mencapai segala tujuan keuangan Anda.
Pada kenyataannya, bagaimana Anda menangani masalah pembiayaan rumah kedua tersebut akan menentukan juga apakah Anda bisa menangani masalah keuangan Anda yang lain. Untuk itu, mari kita sama-sama membuat perhitungan tentang pembiayaan rumah tersebut dalam hubungannya dengan perencanaan keuangan Anda.
Dalam surat Anda menyebutkan bahwa pembelian rumah ini dimaksudkan untuk investasi. Adapun cicilan rumah Anda disebutkan masih akan berlangsung selama 5 tahun lagi dengan cicilan perbulan Rp 500 ribu. Anda juga memiliki simpanan di bank Rp 8 juta. Pertanyaan Anda adalah apakah sebaiknya simpanan tersebut Anda bayarkan semua untuk pelunasan sebagian rumah atau digunakan untuk perbaikan rumah saja.?
Satu hal yang paling penting Anda sadari adalah bahwa sepanjang Anda memiliki rumah yang dibeli baik secara tunai maupun kredit maka untuk selanjutnya Anda akan memiliki pengeluran rutin untuk biaya perawatan rumah seperti pajak, listrik, air, telepon, renovasi, dan lain-lain.
Beban pengeluaran ini tentunya akan menjadi lebih besar lagi jika rumah tersebut dibeli dengan kredit, di mana setelah mengambil KPR Anda sekarang memilki cicilan hutang rumah dalam jangka panjang . Memang benar pada umumnya harga rumah mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, tetapi hal ini sangat dipengaruhi oleh lokasi rumah. Karena itu jika pembelian rumah dimaksudkan untuk investasi maka yang terbaik adalah membelinya dengan tunai atau jika mengambil KPR sebaiknya cepat dilunasi. Mengapa demikian ?
Jika membeli dengan tunai maka biaya lainnya bisa ditekan sekecil mungkin, sedangkan bila membeli secara kredit maka kenaikan nilai rumah otomatis akan banyak berkurang karena Anda harus membayar bunga kredit dan biaya lainnya. Sehingga kemungkinan hasil investasi rumah tidak sebesar yang diharapkan, mengingat nilai jual rumah tersebut belum tentu lebih besar jika dibandingkan dengan seluruh jumlah cicilan kredit rumah dan biaya lainnya yang sudah Anda keluarkan.
Namun demikian, dalam jangka panjang, misalnya 20 atau 30 tahun lebih, selisih antara nilai jual rumah dan biaya serta bunga kredit yang Anda bayarkan biasanya akan cukup besar karena setelah 20 – 30 tahun, nilai jual rumah Anda bisa dipastikan akan cukup tinggi. Tapi ingat, ini terjadi setelah 20 – 30 tahun.
Karenanya, jika investasi rumah Anda ini memang untuk jangka panjang, maka saya anjurkan meneruskan cicilan. Dan dalam masa mengangsur ini sebaiknya Anda mencari sumber dana lain untuk membayar cicilan rumah tersebut sehingga biayanya dapat ditekan sekecil mungkin, misalnya dengan menyewakannya kepada pihak lain sehingga pendapatan dari uang sewa dapat menutup cicilan kredit rumah. Harga sewa rumah yang ideal tentunya sebesar Rp 500 ribu/bulan atau Rp 6 juta /tahun sehingga bisa menutup biaya cicilan rumah.
Nah, agar rumah tersebut layak disewakan, tentunya Anda harus melakukan renovasi, di mana biayanya bisa diambil dari simpanan Anda dan sisanya bisa Anda tabung atau depositokan kembali.
Namun jika investasi rumah Anda adalah untuk jangka pendek, yaitu di bawah 10 tahun, maka sebaiknya Anda memilih untuk melunasi sebagian hutang KPR Anda agar biaya bunga yang Anda keluarkan bisa banyak berkurang. Sehingga total pembelian rumah tersebut bisa jauh lebih murah.
Bila Anda mengatakan bahwa Anda masih memiliki simpanan Rp 8 juta dalam rekening Anda, maka dana ini bisa digunakan untuk pelunasan sebagian, tapi sebelumya harus diperhitungkan dahulu apakah akan ada pengeluaran jumlah besar dalam masa 5 tahun tersebut yang akan menghabiskan simpanan Anda seperti biaya pendidikan anak-anak, pernikahan, dan lain-lain. Jika ada, maka sebaiknya jangan pakai semua simpanan Anda yang Rp 8 juta tadi, tapi mungkin sebagian saja, atau malah tidak sama sekali.
Misalnya, anak Anda akan membayar biaya pendaftaran sekolah sebesar Rp 2 juta dalam 2 tahun lagi, maka pelunasan rumah yang dibayar mungkin bisa sebesar Rp 6 juta saja, karena yang Rp 2 juta disimpan untuk biaya sekolah anak Anda. Dengan demikian, pada saat diperlukan dana pendidikan tersebut sudah tersedia sehingga Anda tidak kebingungan karena sudah dipersiapkan sebelumnya

diposting dari www.rumahjogja99.com

Kesalahan Umum Dalam Investasi Property

Pada artikel sebelumnya, telah di bicarakan bagaimana cara cerdas mengelola uang dengan salah satunya adalah dengan berinvestasi di properti. Juga dalam artikel berikutnya, dibahas tentang 2 jenis investasi di properti, berinvestasi untuk cash flow dan berinvestasi untuk capital gain.
Nah, sebelum anda bener bener memulai, karena mungkin saking antusiasnya, ada baiknya baca yang satu ini dan pikirkan baik baik. Saya rangkumkan tips ini dari seseorang yang sudah bertahun tahun bergerak di bidang properti dan menjadi investor properti sampai saat ini di tambah dengan sedikit pengalaman pribadi.
Berikut adalah 8 Kesalahan Umum dalam Berinvestasi Properti:
1. Tidak ada rencana tujuan yang jelas dan tertulis.
Hal ini yang paling dari apapun yang kita lakukan, entah itu sekolah, kerja, usaha, investasi, dsb. Jikalau apa yang kita lakukan ini tujuan tidak begitu jelas, maka hasil yang akan di dapat juga tentunya tidak akan jelas. Maka di sarankan untuk memiliki suatu tujuan yang jelas dalam berinvestasi properti. Adalah perlu  dan baik untuk menuliskan tujuan itu dengan jelas sehingga mudah untuk diingat ingat. Misalnya, saya ingin punya kos kos an 2 buah dengan jumlah kamar 20 di tahun 2011. Atau juga misalanya, saya mau punya apartemen didaerah depok yang dekat dengan beberapa universitas yang bisa saya sewakan dan memberikan uang sewa sebesar 1.5 juta perbualn di tahuan 2011, dan seterusnya dan seterusnya, ini hanya contoh saja.
2. Tidak mencari nasehat dari pakar properti atau investor properti yang sukses
Hal ini keliatan sepele, mungkin kita akan bilang kan gampang, udah jelas jelas kok gimana caranya, tetapi kalau kita tidak mendapatkan masukan masukan dari pakarnya atau orang yang sudah suskes di bidangnya, maka kemungkinan besar kita akan melakukan kesalahan kesalahan yang semestinya bisa kita hindari. Contoh saja, dulu ketika saya belum belajar tentang investasi properti, saya kira membeli rumah itu pasti ga akan rugi asal bisa bayar angsuran bulannya. Namun setelah saya belajar, itu saja tidak cukup, apalagi kalau kita membeli karena keindahan rumahnya semata dan tidak melihat prospek kedepanya gimana, nah bisa bisa kita akan berhenti pada membayar angsuran per bulan sementara harga properti kok sepertinya bertumbuh sangat lambat, mau dijual juga peminatnya kok sepertinya tidak banyak alias susah.
3. Membeli rumah sebagai investasi properti yang tidak menghasilkan cash flow positif
Ini persis yang saya alami pertama kali membeli rumah dan memang belum menghasilkan cash flow yang positif. Jadi ketimbang kita mendapatkan uang tiap bulannya, eh malahan kita masih harus membayar angsuran tiap bulannya. Memang seringkali, pertama kali kita membeli rumah biasanya memang bukan untuk investasi, namun jika pertama kali kita ingin membeli rumah untuk berinvestasi juga, maka sebaiknya memperhatikan bagaimana cash flownya. Atau, jikalau cash flow bukan merupakan tujuan investasinya , karena memang mau di tempatin sendiri, maka capital gain merupakan hal yang perlu sangat di perhatikan.
4. Membeli properti hanya sesuai keinginan anda dan bukan melihat keinginan calon pembeli atau penyewa di masa datang
Harus hati hati di sini. Seringkali kita bilang akan membeli properti untuk investasi, namun akhirnya yang ternjadi adalah kita membeli sesuai dengan harapan pribadi, mau yang begini dan begitu dan tidak mempertimbangkan keinginan calon pembeli atau penyewa nanti. Seringkali kita hanya mementingkan design yang bagus, terpikat dengan interior yang wah, namun dari lokasi misalnya, properti ini sangat sulit bagi orang yang akan menyewa misalnya. Tentu saja hal ini akan mejadi sangat susah kalau kita akan menyewakan properti itu kepada calon penyewa kita.
5. Membeli properti yang murah tetapi di lokasi yang salah
Salah satu prinsip investasi properti adalah untung ketika membeli, bukan untung ketika menjual. Ini artinya ketika kita membeli sebenernya kita membeli di bawah harga pasar sehingga ketika kita akan menjual dengan harga pasar saja kita akan mendapat untungnya. Tetapi, jangan kita terjebak pada harga saja, jikalau memang lokasi properti tersebut sangatlah tidak bagus. Hal ini akan membuat sulit ketika nanti akan menjual properti tersebut meskipun harga di bawah harga pasar.
6. Membeli rumah impian dan merenovasinya secara berlebihan ketika anda menikah
Biasanya bagi orang yang pertama beli rumah penginnya tentu yang semenarik mungkin, hingga kadang kadang renovasi di lakukan dengan gila gila an. Pokoknya demi kepuasan sementara karena memang ini baru pertama kali membeli rumah. Namun yang terjadi setelah itu, akan tiba pada giliran untuk membayar angsuran rumah yang tidak kecil, dan itu rupanya cukup membebani. Apalagi kalau itu dengan kenyataan bahwa rumahnya tidak berada pada lokasi yang bagus dan di beli dengan harga yang bagus, maka jelas rumah itu akan sangat sulit menjadi sebuah investasi.
7. Membeli rumah di luar kemampuan keuangan
Saking semangatnya untuk memiliki rumah yang bagus dan mewah, akhirnya perhitungan kemampuan tidak di pertimbangkan. Hasilnya tentu akan memiliki komitmen keuangan yang melebihi kemampuan keuangannya. Baik pada awalnya di pertimbangkan kemampuan keuangannya. Termasuk di sini kita harus mempertimbangkan besarnya biaya biaya lain selain uang muka, seperti biaya pajak, balik nama, notaris, asuransi, angsuran bulanan dengan bunga yang kemungkinana naik secara drastis, biaya operasional tiap bulannya termasuk listrik air dan perawatan, juga termasuk renovasi yang di perlukan pada tahap awal.
8. Anda masih membayar cicilan uang rumah anda sampai anda pensiun
Tadinya berfikir untuk membeli rumah dengan biaya awal sekecil kecilnya. Namun ternyata cicilan yang di ambil begitu sangat lama sehingga selama masa pensiun pun tetap harus membayar cicilan rumah itu. Jika rumah ini hanya di tempatin sendiri, tentu ini akan menjadi beban sampai masa pensiun. Kecuali memang rumah ini di sewakan dan memberikan cash flow yang positif, sehingga cicilan sampai masa pensiun pun tidak masalah tentunya.
Nah, coba cermati dan pertimbangkan hal hal diatas sebelum kita mengambil keputusan untuk berinvestasi di properti, supaya kesalahan kesalahan umum di atas jika perlu tidak usah terjadi.
tagged www.rumahjogja99.com

Kapan Saat yang Tepat untuk Membeli Rumah?

Bagi Anda yang pada saat ini belum memiliki rumah, kapan sih saat yang tepat bagi Anda untuk membelinya? Sebetulnya tidak ada jawaban yang pasti. Sejumlah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Anda mungkin adalah pertanda bahwa sudah saatnya bagi Anda untuk membeli sebuah rumah. Misalnya saja, rencana menikah atau bertambahnya anggota keluarga mungkin merupakan suatu pertanda bahwa Anda mungkin sudah harus memiliki rumah sendiri.
Perhatikan bahwa membeli rumah, baik bagi yang baru pertama kali maupun bagi yang sudah beberapa kalinya, selalu merupakan suatu keputusan penting yang perlu pemikiran matang. Iya dong, karena dengan membeli rumah, maka Anda mungkin harus memiliki suatu komitmen jangka panjang. Kalau nanti rumah Anda rusak-rusak pada tahun kelima, ketujuh atau kesembilan, Anda kan tetap harus keluar uang untuk memperbaikinya kan? Itulah yang dimaksud dengan komitmen jangka panjang, yaitu bahwa apa pun yang terjadi dengan rumah itu, selama rumah itu adalah milik Anda, maka Anda harus merawatnya.
Bagi Anda yang membeli rumah secara kredit, maka Anda mungkin harus membayar cicilan rumah dengan jangka waktu yang bervariasi, mulai dari satu, tiga, lima, hingga 15 tahun lamanya. Belum lagi Anda juga harus membayar biaya-biaya lain yang mungkin muncul di tengah jalan, seperti perawatan rumah, renovasi, perluasan, dan lain-lain sehingga dalam perjalanannya nanti rumah Anda mungkin akan terus menyesuaikan diri dengan gaya hidup Anda sekeluarga.

www.rumahjogja99.com

8 Tip Membeli Rumah Tinggal menurut Fengshui

Fengshui rumah tinggal merupakan salah satu faktor pertimbangan penting terutama bagi mereka yang bertujuan menempati bangunan tersebut.
Berikut ini tip untuk memilih rumah tinggal dari kacamata fengshui.
TIP-1 : Lingkungan Sekeliling Rumah Tinggal
Lingkungan di sekeliling rumah tinggal harus asri. Artinya, tempatnya bersih dan berada pada posisi yang cukup nyaman. Tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah. Tidak dikelilingi bangunan-bangunan yang terlalu tinggi di samping kiri-kanan maupun di depannya. Tanaman di sekeliling bangunan pun terlihat subur dan segar.
TIP-2 : Kondisi Kontur Tanah
Rumah tinggal yang baik Feng Shui-nya berada pada kontur tanah yang naik ke belakang, bukan sebaliknya. Rumah yang berada pada tanah yang menurun ke belakang dipercaya dapat mengurangi kemakmuran penghuni rumah tersebut. Juga penting diketahui, apabila ternyata kapling tanah itu telah diurug. Perhatikan rumah yang berada di depan; apakah kondisi tanahnya lebih tinggi, sehingga bangunan rumah tinggal yang diminati itu berada jauh lebih rendah.
TIP-3 : Bentuk Kapling
Bentuk kapling yang baik adalah empat persegi panjang. Bentuk seperti ini baik, apabila memanjang ke belakang, dan kurang dianjurkan apabila lebar depan rumah lebih panjang dari kedalamannya. Bentuk kapling yang melebar ke belakang (ngantong) acap kali juga diminati, tetapi sebaiknya tidak mengecil ke belakang. Bentuk kapling yang kurang beraturan, kurang begitu menguntungkan; perhatikan pula kapling yang tidak beraturan, apakah berbentuk runcing menusuk ke dalam kapling; ini adalah kondisi yang tidak menguntungkan.
TIP-4 : Arah Hadap Pintu Masuk Utama
Arah hadap pintu masuk utama sebaiknya sesuai dengan arah yang baik bagi kepala keluarga (pria dan wanita). Untuk itu harus dilihat angka Kua dari kepala keluarga ini. Untuk pria gunakan rumus: (100 – tahun lahir)/9 sisanya adalah Kua. Untuk wanita, gunakan rumus: (tahun lahir – 4)/9 sisanya adalah Kua.
Kua 2,5,6,7, dan 8 termasuk dalam kelompok Barat, dan arah hadap pintu masuk utama adalah : Barat, Barat Laut, Barat Daya, atau Timur Laut. Kua 1, 3, 4, dan 9 termasuk dalam kelompok Timur, dan arah hadap pintu masuk utama adalah : Timur, Utara, Selatan atau Tenggara.
Contoh perhitungan :
Pria kelahiran 1953 memiliki Kua = (100-53)/9 sisa 2 (BARAT)
Wanita kelhiran 1977 memiliki Kua = (77- 4)/9 sisa 1 (TIMUR)
TIP-5 : Tata Letak Interior
Tata letak interior perlu memperhatikan beberapa prinsip penting. Terutama ialah: dapur tidak terletak di sektor utara (karena utara simbol air, sedang dapur adalah api); kamar mandi/WC tidak terletak di sektor selatan (karena selatan adalah simbol api, sedang kamar mandi/WC adalah simbol air). Selain itu, hindari rumah dengan letak tangga, dapur, atau kamar mandi/WC berada persis di tengah rumah. Hindari juga rumah yang pintu depannya langsung melihat ke arah tangga, pintu dapur, maupun pintu kamar mandi/WC.
TIP-6 : Bentuk Bangunan
Bentuk bangunan yang sederhana dan beraturan lebih baik daripada bentuk bangunan yang tidak beraturan dan bentuk dasar yang beraneka ragam. Apabila sebagian bangunan itu bertingkat, maka posisi tingkatnya sebaiknya berada di bagian belakang bangunan, bukan sebaliknya.
TIP-7 : Dimensi Waktu
Saat transaksi pembelian rumah tinggal dan saat menempati bangunan merupakan hal yang penting. Ada baiknya tidak melakukan aktivitas penting pada tahun-tahun ciong. Pasangan ciong adalah ular-babi; naga-anjing; kelinci-ayam; harimau-monyet; kerbau-kambing; dan tikus-kuda.
TIP-8 : Andalkan Intuisi Anda
Setelah mempertimbangkan ketujuh tip di atas, maka yang terakhir perlu diperhatikan adalah andalkan intuisi Anda sendiri. Ketika melihat bangunan yang diminati, perhatikan semua aspek bangunan itu dari luar hingga masuk ke dalam dan cobalah rasakan, apakah rumah itu akan cocok dengan Anda. Anda dengan cepat dapat mengetahui dan merasakan apakah ada kecocokan dengan bangunan rumah tinggal itu. Kesan pertama ini menjadi penting untuk diperhatikan.
sumber: www.asbabul-hikmah.tripod.com